Minggu, 16 Oktober 2016

bab II (Pembahasan)



BAB II
PEMBAHASAN

1.        PEGERTIAN
Al-qur’an adalah kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad, melalui perantaraan jibril yang bila membacanya mendapat pahala. Salah satu cabang ilmu al-qur’an adalah ilmu Makki dan Madani. Secara umum, kedua ilmu ini adalah ilmu yang membahas ayat-ayat al-qur’an yang turun di Mekkah dan di Madinah. Dilihat dari definisi diatas, beberapa ulama memberikan pendapat yang berbeda-beda, hal ini disebabkan karena mereka menyesuaikan kriteria atau ciri-ciri khusus dari makkiyah dan madaniyah itu sendiri.
Secara istilah pengertian yang paling populer dikalangan ulama dalam mengartikan Makki dan Madani adalah ayat-ayat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah ke Madinah meskipun turunnya diluar daerah Makkah, dan Madani adalah yang turun setelah Nabi hijrah ke Madinah meskipun turunnya di luar daerah Madinah.[1]

2.        PENDEKATAN MENGETAHUI ILMU MAKKI DAN MADANI
Ilmu makki dan Madani sangat berkaitan dengan ilmu asbabun nuzul, sebab untuk mengetahui ilmu Makki dan Madani kita harus memperhatikan beberapa aspek, seperti: waktu, tempat, bentuk seruan, dan tahapan penetapan hukum maupun perintah. Ilmu makkiyah dan madaniyyah termasuk dalam kategori ilmu riwayah. Justru itu, ilmu ini tidak akan dapat dikuasai dan diketahui kecuali melalui riwayat dari sahabat. Karena hanya merekalah yang menyaksikan turunnya ayat-ayat Al-quran kepada Nabi, dalam suasana apa, dimana tempatnya, dan faktor yang melatar belakangi turunnya ayat tersebut.
Para ulama menetapkan ilmu Makki dan Madani melalui dua metode, yang pertama metode Sima’i naqly, yaitu metode yang berdasarkan kepada petunjuk riwayat shahih, yang bersumber dari para sahabat Nabi ketika berada disisi Nabi saat al-qur’an turun, atau atas petunjuk dari tabi’in yang mendengar langsung dari sahabat tentang kapan, dimana dan berkaitan dengan apa turunnya ayat tersebut.[2] Sedangkan metode Qiyasi al-Ijtihadi adalah metode dengan menetapkan suatu ayat atau surat dalam kelompok Makkiyah dan Madaniyah berdasarakan ciri dari sebuah wahyu yang turun, baik itu di Makkah maupun di Madinah melaui ijtihad (analisa dan penalaran).
a)        Ciri-ciri surat Makkiyah
Secara umum Makki terdiri dari dua ciri, yaitu qath’i (pasti), dan aqlaby (kebiasaan). Berikut ciri-ciri yang qath’i (pasti):
-          Setiap surat yang didalamnya terdapat lafal kalla adalah makkiyah. Lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari Al-Qur’an. Dan disebutkan sebannyak 33 kali dalam 15 surah.
-          Setiap surat yang didalamnya terdapat surat sajadah adalah surat makkiyah, para ulama mengatakan bahwa ada 16  ayat sajadah dalam al-qur’an yang terdapat dalam surat-surat tertentu.
-          Setiap surah yang mengandung “yâ ayyuhan-nâs” dan tidak mengandung  “yâ ayyuhal-ladzîna âmanû” berarti Makki, kecuali surah al-Hajj yang pada akhir surah terdapat yâ ayyuha al-ladzîna âmanûr-ka’û wasjudû. Namun demikian sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat tersebut adalah ayat Makki.
-          Setiap surah yang mengandung kisah para nabi dan umat terdahulu adalah ayat Makki.
-          Setiap surah yang mengandung kisah Adam dan Iblis adalah Makki kecuali surah Al- Baqarah.
-          Setiap surah yang dibuka dengan huruf-huruf singkatan, seperti Alif Lâm Mim, Alif Lâm Râ, Hâ Mîm dan lain-lainya, adalah Makki, kecuali Al-Baqarah dan Ali ‘Imran. Sedangkan surah Ra’d masih diperselisihakan.
Selain yang berciri qath’i, adapun yang yang berciri-ciri aglaby (kebiasaan) adalah sebagai berikut:
-       Secara umum ayat dan suratnya pendek-pendek.
-       Seruannya agar beriman kepada Allah serta menggambarkan tentang keadaan syurga dan neraka.
-       Mengajak manusia untuk berakhlak mulia
-       Mengajak manusia untuk berakhlak mulia.
-       Didalam ayat dan surat tersebu terdapat lafaz sumpah.
-       Membantah orang-orang musyrik dan menjelaskan tentang kekeliruan mereka. [3]
-       Ajakan kepada tauhid dan beribadah kepada Allah.
-       Peletak dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlak mulia bagi kehidupan masyarakat, dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara dzalim, penguburan hidup-hidup bayi perempuan dan tradisi buruk lainnya.[4]


b)        Ciri-ciri surat Madaniyah
Sama hal nya ciri dari makkiyah, madaniyah juga memiliki ciri-ciri yang qath’i dan aglaby. Berikut ciri dari yang qath’i :
-       Isi suratnya menjelaskan tentang izin berjihat atau masalah hukum berperang
-       Setiap suratnya menjelaskan faridhah (kewajiban) dan had (sanksi),serta membicarakan hukum pidana, faraid, warisan perdata kemasyarakatan dan kenegaraan.
-       Setiap ayat yang mengandung keadaan orang munafik, kecuali 15 ayat pertama dari surat al-ankabut, karena 15 ayat ini diturunkan di Makkah.[5]
-       Khittabnya ditujukan kepada orang-orang mukmin dengan menggunakan kalimat ya aiyuhallazi na aamanu, kecuali pada surat:
a.       Al-Baqarah ayat 21 dan 168
b.      An-Nisa ayat 132, 170 dan 175
c.       Al-Hajj ayat 1
d.      Al-Hujurat ayat 13 yang memakan kalimat yaaiyuhannas[6]
-       Seruan terhadap ahli kitab (mujadalah) dari kalangan yahudi dan nasrani, dan ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada mereka.
Sedangkan dari segi aglaby, ciri-ciri madaniyah adalah:
-       Membicarakan tentang orang-orang munafik sifat-sifat orang munafik dan membahas tentang rahasia mereka
-       Umumnya ayat dan suratnya panjang-panjang serta menggambarkan luasnya akidah dan hukum islam.


3.        KLASIFIKASI SURAT MAKKIYAH DAN MADANIYAH
Menurut kitab Al-Fihrist yang diambil dari buku wawasan baru Tarikh Al-Qur’an karya Syekh Abu Abdullah Al-Zanjani, berikut tabel kronologi turunnya ayat-ayat Al-Qur’an.
No.
Surat yang turun di Makkah
Surat yang turun di Madaniyah
1.
Iqra’ s/d Maalam ya’lam
Al-Baqarah
2.
Al-Qalam
Al-Anfal
3.
Al-Muzammil
Al-A’raf
4.
Al-Muddatssir
Ali Imran
5.
Al-Lahab
Al-Mumthahanah
6.
At-Takwir
An-Nisa
7.
Al-A’la
Al-Zalzalah
8.
Al-Insyirah
Al-Hadid
9.
Al-Asr
Muhammad
10.
Al-Fajr
Ar-Ra’d
11.
Ad-Dhuha
Al-Insan
12.
Al-Lail
Ar-Rahman
13.
Al-Adiyat
Al-Thalaq
14.
Al-Kautsar
Al-Bayyinah
15.
At-Takatsur
Al-Hasyr
16.
Al-Ma’un
An-Nur
17.
Al-Kafirun
Al-Haj
18.
Al-Fill
Al-Munafiqun
19.
Al-Ikhlas
Al-Mujadalah
20.
Al-Falaq
Al-Hujurat
21.
An-Nass
At-Tahrim
22.
Al-Najm
At-Taghabun
23.
Abasa
Al-Shaff
24.
Al-Qadr
Al-Jumu’ah
25.
As-Syam
Al-Fath
26.
Al-Buruj
Al-Maidah
27.
At-Tinn
At-Taubah
28.
Al-Quraisy
An-Nashr
29.
Al-Qari’ah

30.
Al-Qiyamah

31.
Al-Humazah

32.
Al-Mursalat

33
Al-Qaf

34.
Al-Balad

35.
Ar-Rahman

36.
Al-Jin

37.
Yassin

38.
Shaad

39.
Al-Furqan

40.
Al-Malaikah

41.
Fathir

42.
Maryam

43.
Thaha

44.
Al-Waqi’ah

45.
As-Syu’ara’

46.
Al-Naml

47.
Al-Qashash

48.
Al-Isra

49.
Hud

50.
Yusuf

51.
Yunus

52.
Al-Hijr

53.
Al-Shaffat

54.
Al-Luqman (ayat terakhi Madaniyah)

55.
Al-Mu’minun

56.
Saba’

57.
Al-Anbiya’

58.
Al-Zhumar

59.
Al-Mu’min

60.
Al-Sajdah

61.
Al-Qahf

62.
Al-Zhukruf

63.
Al-Dukhan

64.
Al-Syari’ah

65.
Al-Ahqaf (sebahagian Madaniah)

66.
Al-Dzariat

67.
Al-Ghasyiyah

68.
Al-Kahfi (ujung Madaniyah)

69.
Al-An’am

70.
An-Nahl (ayat terakhir Madaniyah)

71.
An-Nuh

72.
Ibrahim

73.
Al-Thur

74.
Al-Mulk

75.
Al-Haqqah

76.
Al-Ma’arij

77.
An-Naba’

78.
Al-Nazi’at

79.
Al-Infithar

80.
Al-Insyiqaq

81.
Ar-Ruum

82.
Al-Ankabut

83.
Al-Muthaffifin

84.
Al-Fussilat

85.
ghafir

86.
At-Thariq



            Tabel diatas menunjukkan tempat ayat dan surat itu turun secara umum, namun jika diklasifikasi lebih dalam lagi maka isi dari tabel tersebut akan terpilah-pilah. Berikut rincian dari hasil kesepakatan para ulama.
a.      Ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah sedang hukumnya Madani
-          Ayat 13 surat Al-Hujarat
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
-          Ayat 3-5 surat Al-Maidah
b.      Ayat yang diturunkan di Madinah sedang hukumnya Makki
-          Al-Mumthahanah
-          Ayat 41 surat An-Nahl
-          Surat At-Taubah ayat 1-28
c.       Ayat yang diturunkan di Mekkah mirip Madaniyah
Yakni ayat yang dalam surah Madaniyah tetapi mempunyai gaya bahasa dan ciri umum Makkiyah, karena ayat tersebut diturunkan di Mekkah. Contohnya QS. Al-Anfal: 32 
“Dan (ingatlah), ketika mereka berkata : Ya Allah, jika benar (Al-Qur’an) ini benar dari sisi-Mu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit. Atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.”
d.      Ayat yang diturunkan di Madaniyah mirip Makkiyah
-          Ayat 17 surat Al-Anbiya, yang turun berdasarkan kedatangan delegasi kaum Nasrani Najran.
-          Ayat 1 surat Al-Adiyat
-          Ayat 32 surat Al- Anfal
e.       Ayat yang diturunkan dimalam hari
-          Surat Al-Hajj ayat 1 (ayat ini tirun ketika peperangan Bani Al-Musthaliq)
-          Surat Al-Maidah ayat 67
-          Surat Al-Qashas ayat 56
-          Surat Ali Imran ayat dimulai dari ayat 190 sampai terahir ayat tersebut.
-          Surat Al-An’am
-          Surat Maryam
f.       Ayat yang turun di musim dingin
-          Surat An-Nur ayat 11
-          Surat Al-Ahzab ayat 9
g.      Ayat yang turun di perjalanan
-          Surat Al-Baqarah ayat 281, ayat ini turun di Mina pada tahun terjadinya haji Wada’.
-          Surat An-Nisa ayat 58 dan 176
-          Surat Al-Maidah ayat 3 yang turun di Arafah saat berlangsung haji Wada’.
h.      Ayat yang turun ketika Musyayya’
Musyayya’ artinya diiringi, dikawal dan diantar. Adapun surat-surat yang diantar oleh para malaikat adalah:
-          Surat Al-Fatihah
-          Surat Ayat Kursi
-          Surat Yunus
-          Surat Al-An’am[7]

4.             MANFAAT MENGETAHUI ILMU MAKKI DAN MADANI
-          Mempermudah dalam proses menafsirkan Al-Qur’an ketika menggunakan tafsir maudu’i
-          Dengan ilmu ini kita dapat mengetahui sejarah perjalanan nabi. . Sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik dalam periode Makkah maupun Madinah
-          Mudah mengetahui mana ayat-ayat Al-Qur'an yang turun lebih dahulu dan mana ayat yang turun belakangan dari kitab suci Al-Qur'an.
-          Mengetahui dan mengerti sejarah pensyariatan hukum-hukum Islam (Taairakhut Tasyri') yang amat bijaksana dalam menetapkan hukum.
-          Meningkatkan keyakinan orang terhadap kesucian, kemurnian dan keaslian Al-Qur'an.
-          Dengan ilmu ini kuta dapat mengetahui nasikh dan mansukh dalam al-qur’an.[8]







                                                                 BAB IV
PENUTUP
                                                                      
Kesimpulan dan saran
Ketika seseorang ingin meneliti sebuah ayat, hal yang pertama dilakukan adalah mempelajari seluk beluk ilmu al-qur’an. Kita tidak bisa menyepelekan hal kecil dalam mengidentifikasi ayat tersebut, oleh karena itu landasan yang harus kita pegang sebelum kita mengidentifikasi lebih dalam sebuah ayat adalah dengan mempelajari ilmu Makky dan Madani. Karena hal itu berkaitan dengan tempat, situasi dan keadaan turunnya sebuah ayat dalam Al-Qur’an.
Harapan penulis adalah semoga dengan adanya penulisan makalah ini pembaca dapat memahami bagaimana makna Makky dan Madani, penulis juga sangat berharap mohon kritik dan sarannya terhadap penulisan makalah ini, supaya penulis dapat menjadi lebih baik dalam penyusunan makalah selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA

1.   Al-Zarqany, Juz I, Op. Cit., hal. 194-195. Manna’ al Qaththan, Op. Cit
2.      Suyuthi,Imam Jalaluddin.Itqan fi Ulum Al-Qur’an. Jilid 1.Arab Saudi:Markaz Dirasat Qur’aniyah
3.    Muhammd Zaini , M.Ag, Ulumul Qur’an suatu pengantar,  cet I (Banda Aceh: Yayasan Pena, 2005)
4.   Kadar M. Yusuf, StudiAl-Qur’an,(Jakarta: Amzah, 2009),
5.   Muhammad Amin Suma, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an 1,
6.   Kamaluddin Marzuki, ‘Ulum Al-qur’an,



[1] Al-Zarqany, Juz I, Op. Cit., hal. 194-195. Manna’ al Qaththan, Op. Cit., Hal. 61
[2] Jalaluddin al-Suyuthi, al-itqan fi’ulum al-Qur’an, juz I (Beirut: dar al Fiqr, 1979), hal. 9
[3] Muhammd Zaini , M.Ag, Ulumul Qur’an suatu pengantar,  cet I (Banda Aceh: Yayasan Pena, 2005), hal. 51
[4] Kadar M. Yusuf, StudiAl-Qur’an,(Jakarta: Amzah, 2009), hal. 33

[5] Muhammd Zaini , M.Ag, Ulumul Qur’an suatu pengantar,  cet I (Banda Aceh: Yayasan Pena, 2005), hal. 52
[6] H. Muhammad Amin Suma, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an 1, hal. 87
[7] Kamaluddin Marzuki, ‘Ulum Al-qur’an, hal: 59
[8] H. Muhammad Amin Suma, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an 1, hal. 88-89